Selasa, 27 Maret 2012

Pelajaran dari koin penyok

Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dgn rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Saat ia sedang menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu. Ia membungkuk dan menggerutu kecewa. “Uh, hanya sebuah koin kuno yg sudah penyok.” Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank.  “Sebaiknya koin ini dibawa ke kolektor uang kuno,” kata teller bank memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai US$ 30. Tentu saja lelaki itu begitu senang. Kemudian ia melewati toko perkakas, dan dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dollar untuk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel, yg jeli dan sudah terlatih, melihat kayu bermutu yg dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari senilai US$ 100 utk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak utk membawa pulang lemari itu.
Di tengah perjalanan ia melewati perumahan baru. Seorang wanita melihat lemari yg indah itu dan menawarnya US$200. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi US$ 250. Lelaki itupun setuju dan mengembalikan gerobaknya.
Saat sampai di pintu desa, ia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Tiba-tiba seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya bertanya, “Apa yg terjadi? Engkau baik saja, kan? Apa yg diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Demikianlah Tuhan mengatur hak-hak kita. Bila kita sadar bahwa kita tak pernah benar-benar memiliki apapun, kenapa saat kehilangan kita harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan ? Bersyukurlah !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar