Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel, yg jeli dan sudah terlatih, melihat kayu bermutu yg dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari senilai US$ 100 utk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak utk membawa pulang lemari itu.
Di tengah perjalanan ia melewati perumahan baru. Seorang wanita melihat lemari yg indah itu dan menawarnya US$200. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi US$ 250. Lelaki itupun setuju dan mengembalikan gerobaknya.
Saat sampai di pintu desa, ia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Tiba-tiba seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya bertanya, “Apa yg terjadi? Engkau baik saja, kan? Apa yg diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Demikianlah Tuhan mengatur hak-hak kita. Bila kita sadar bahwa kita tak pernah benar-benar memiliki apapun, kenapa saat kehilangan kita harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan ? Bersyukurlah !!
